Minggu, 21 November 2010

" Sm@daBo "

      Pertama kali aku melihat bangunan depan sekolah , aku berfikir dalam benakku , waaaaacH ... ... sekolah SMADABO itu ASRI juga each !!! Aku merasa nyaman sekali karena di lingkungan SMADABO ini banyak ditumbuhi pohon - pohon besar , sehingga menambah suasana menjadi sangat rindang . Pada waktu pendaftaran dimulai , aku dan sahabatku waktu SMP berdesak - desakkan untuk mengambil formulir pendaftaran . Setelah itu , kami mengisinya dan mengembalikan formulir pendaftaran kepada petugasnya . Saat itu juga , aku menggu untuk mendapatkan selembar kertas yang berisikan bahwa aku telah resmi mendaftar di SMADABO ini . Haa .. haa .. haa .. akhirnya dapat juga . Disampingku ada seorang laki - laki yang ternyata teman SMP dan SD ku dulu . Dan akupun berbincang - bincang sejenak .

       Saat hari pertama masuk sekolah  , ternyata sekolah di SMA berbeda banget sama di sekolah SMP . Perbedaannya , kalau di SMA tuu kita dituntut untuk lebih mandiri daripada di SMP . Naaach ... ..., aku sangat malu sekali saat pertama awal masuk sekolah dengan memakai seragam MOS , lalu aku masuk ke ruangan kelas yang udah disediain oleh panitia MOS sebelumnya . Akupun duduk dibangku kedua dari depan dan teman sebangku ku bernama NATASHA . Yang paling aku benci dari kegiatan MOSitu , aku harus mengganti nama bangku ku yang dengan entengnya dibuang gitu aja oleh Petugas Keamanannya , padahal aku udah susah payah bikinnya , e .. .. .. malah dibuang seenaknya ajja dengan raut muka yang tanpa doza itu . Akupun juga dibentak - bentak pass didepan muka ku persis, coz katanya rok aku kependekan. huuft .... .... baweL bgt siich !!!

       Selama di kelas X ,  akupun mulai mengenal temanku satu per satu dengan memperkenalkan diri di depan kelas . Dan waktu pelajaran pun dimulai , ternyata di SMA itu pelajarannya lebih ruwet yach , duuuch ... ... puciink .. .. .Tapi kalau kita mau berusaha pasti kita bisa koQ . Aku juga berusaha untuk mengenal guru - guru satu demi satu . Tak lupa juga , aku mulai mengenal kakak kelas ku . Yang menjadi teman akrabku waktu kelas X bernama DYAH AYU P.K , hehehe ( ^_^ ) . Dia itu kalau diajak bercanda lebih E.D.A.N daripada aku Loooooooo . wqwqwqwqwq .... Meskipun siswa laki -laki dikelasku banyak yang comLetan , tapi kelasku teteb kompak dan sering mengadakan acara - acara, seperti BukBer n' CamPing .

       Aku merasa seneng banget coz aku naeg kelas XI . Yang membuat aku sedih , aku harus berpisah dengan teman sekelasku . Hikz hikz hikz (-_-) Ditambah lagi kita berbeda kelas n ' berbeda jurusan pula , aku makin tambah sedih nich . Yach , aku tahu kalau kita berbeda arah tujuannya . Namun paling tidak kita masih dapat bertemu dengan mereka dan berteman lagi . Di kelas XI ini , aku mendapat teman " NEW " lagi dari kelas yang berbeda - beda . Di kelas baru ini pun , kami berusah untuk menciptakan kekompakkan n' keakraban antara satu sama lainnya. Dan merasakan senang maupun duka bersama - sama







                                                                                                                                                 by : HapPy

                                                                                                                                              ..... (^_^) .....

" To Bee or Not To Bee "

Sinopsis

         Karangan John Penberthy, menceritakan tentang perjalanan spiritial seekor lebah bernama Buzz dalam pencariannya akan Tuhan. Buzz yang jenuh dengan rutinitas kegiatan sehari-hari — mengumpulkan madu, memperbaiki dan melindungi sarang — mulai mempertanyakan arti kehidupan yang ia jalani dan eksistensi serta pengaruh Tuhan terhadap dirinya. Dalam pencariannya, ia kemudian berkenalan dengan Bert, seekor lebah tua yang bijak. Meskipun tidak secara gamblang, Bert banyak Buzz dalam menemukan jawaban atas segala pertanyaan spiritual yang ada di pikiran Buzz. Hingga pada akhirnya, Buzz mampu memahami dengan jernih apa arti kehidupan dan keberadaan Tuhan yang selama ini ia cari.


Resensiku

Memang pantas bahwa buku ini telah diterjemahkan dalam 13 bahasa. Isinya benar-benar dalam dan menyentuh. Penberthy dengan jeniusnya mampu ‘menterjemahkan’ kehidupan dan keinginan seorang individu manusia ke dalam kehidupan seekor lebah dan koloninya, membuat kita merasa mereka tidak ada bedanya dengan kita. Apalagi ditambah dengan ilustrasi menawan dari Laurie Barrows yang mampu menambah pendalaman tentang isi buku.
Banyak kalimat-kalimat filosofis yang saya rasa dapat membuat siapa saja yang membacanya meluangkan waktu sejenak untuk merenung dan memahami artinya.
Adalah sempurna untuk berpikir bahwa kehidupan itu tidak sempurna.
Pikiran adalah pelayan yang hebat, tapi merupakan majikan yang payah.
Kebahagiaan tidak dapat dikejar, melainkan harus mengikuti.
Kehidupan adalah sebuah perjalanan dari aku menjadi kita.
Pada awalnya, saya mengira buku ini adalah tentang orang ‘kaya’ yang sudah bosan menumpuk kekayaan dan berharap mencari kedamaian spiritual. Ternyata saya salah. Buku ini justru mengenai orang ‘biasa’ yang jenuh bekerja siang malam untuk mencari nafkah dan menjalani hidupnya, yang kemudian mencoba mencari jawaban dengan melakukan pemikiran dan perjalanan spiritual. Dan pada akhirnya, perlu disadari bahwa keadaan kita saat ini dan apa yang kita lakukan saat ini, seberapa pun membosankannya, adalah sebuah karunia besar dari Tuhan yang patut kita syukuri.

Selasa, 09 November 2010

Mim "phiie" nappLe

            Imajinasiku berawal dari sebuah mimpi dalam tidurku . Anganku pun terbang dan melayang tak menentu . Di mana ada tujuan , disitupun tempatku berlabuh . Dari situlah , arah hidupku kan ku tempuh . tak heran jikalau seseorang tertegun melihatku . Akupun terengah - engah mencapai kegalauanku . Aku sadar, jika aku kan meraihnya . Hati kecilku pun berkata , " Aku pasti bisa dan harus bisa " . Jika orang lain bisa kenapa aku tidak ??? Hee ... hee ... hee ... (^_^) .

            Suatu ketika hari impianku tiba menghampiriku . Jantungku berdegub - degub seperti halnya darahku . Waaach ... ... ... seperti each rasanya , aku tahu itu ....... !!! Ku lalui tahun demi tahun , bulan demi bulan , minggu demi minggu , hari demi hari , jam demi jam , menit demi menit , detik demi detik , tanpa kesedihan , hanya kesenanganlah yang ada .

            Ambisiku tuk dapat menggenggam cakrawala sudah di depan mata . Di setiap ujung langkahku tak sedikit pun aku merasa ragu . Aku terus melangkah , melangkah , dan melangkah tanpa lelah . Ku berharap di perjalananku yang sangat panjang ini , ku tak mau semua itu sia - sia . Karena duri - duri tajam telah aku dapatkan , walau pun itu sangat menyakitkan ku harus berjuang seiring dengan berjalannya waktu . Waktu terus berlari mengejarku .

            Matahari pagi ku bersinar cerah membangunkan aku pada tidur lelap ku . Kerlingan mata ku menandakan , hatiku yang sejuk dan hening seperti embun pagi yang menyelimuti bumi . Semoga ... ... ... hari esok lebih baik dari hari ini . Aku mau semua penghuni alam ini tahu bahwa aku adalah ... ... ... pemimpin generasi penerus masa depan yang menyelami jurang - jurang kegelapan dan menembus cakrawala dunia .